Ramsay Health Care

Welcome to Ramsay Health Care  
      
Australia's largest Private Hospital group
Australia's largest Private Hospital group Australia's largest Private Hospital group Doctors Mental Health

Nurses

http://www.ramsayhealth.com.au/

http://www.ramsayhealth.co.id/

                    English | Indonesia

Home

Jadwal Konsultasi Dokter

Daftar Dokter Praktek RSMI

Artikel Kesehatan

Events

Talk Show

Hot News

Selamat datang di Ramsay Health Care Group - Rumah Sakit Swasta terbesar di Australia, yang mengoperasikan 70 fasilitas kesehatan, termasuk 3 di 

Indonesia: 

RS Mitra Internasional,

RS Internasional Bintaro dan

RS Surabaya Internasional

 

RS Mitra Internasional
Jl. Raya Jatinegara Timur 85-87 Jakarta 13310 - Indonesia
Tel. +62-21-2800666/777/888/999
Fax.+62-21-2800755

 

Indonesia - Career

 

 

Tata Laksana Gejala Putus Zat dan Intoksikasi NAPZA

 

 

 

oleh: dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ

 

 

Terapi untuk ketergantungan Napza seharusnya tersedia fasilitas unit rawat inap, panti rehabilitasi, halfway houses, group home, dan unit rawat jalan.

KOMPONEN dasar terapi terdiri dari terapi individu baik farmakoterapi dan psikoterapi, konseling khusus, self help group (Narcotica Anonymous, Alcohol Anonymous, dll, edukasi tentang ketergantungan zat, program pencegahan relaps, pemeriksaan urine secara acak, terapi keluarga. Dalam makalah ini, penulis hanya memfokuskan pembahasan pada penatalaksanaan gejala putus zat dan intoksikasi. Intervensi medik dalam tatalaksana ketergantungan zat mempunyai keterbatasan. Ruang lingkup kerja profesi medik yang relatif terbatas, yaitu di klinik, rumah sakit atau di tempat praktek pribadi.

Masalah ketergantungan zat pada umumnya bukan merupakan masalah psikiatrik yang berdiri sendiri. Meskipun banyak kasus didasari masalah kepribadian, gangguan penyesuaian, bahkan gangguan skizofrenik.

Masalah kehidupan sosial, gaya hidup, model keluarga, atau masalah dalam keluarga dapat menjadi pemicu atau faktor kontribusi terjadinya masalah ketergantungan zat. Konsep dasar penatalaksanaan terapi medik ketergantungan terdiri atas 2 fase:

  1. Terapi withdrawal atau detoksifikasi

  2. Rumatan (maintenance, perawatan, pemeliharaan)

Kedua fase merupakan suatu proses yang berkesinambungan, tidak dapat berdiri sendiri.

Terapi medik ketergantungan Napza merupakan kombinasi farmakoterapi dan terapi perilaku. Tujuan terapi adalah mengobati gejala-gejala putus zat dan komplikasi medik seperti gangguan mental organik yang hampir selalu dijumpai pada pasien pengguna Napza.

Terapi Kedaruratan yang Berkaitan dengan Gangguan Penggunaan Napza

Pada garis besarnya dapat digolongkan menjadi 4 kelompok:

  1. Pasien yang datang dengan tanda-tanda vital terganggu, walaupun dijumpai halusinasi, waham atau kebingungan, digolongkan pasien dengan intoksikasi.

  2. Pasien yang datang tanpa adanya gangguan tanda-tanda vital, tetapi memperlihatkan gejala putus zat, walaupun disertai kebingungan dan gejala psikosis, digolongkan pasien dengan gejala putus zat.

  3. Pasien yang datang dengan kebingungan yang sangat disertai halusinasi atau waham, tetapi tanda-tanda vital semuanya baik dan tidak ada gejala putus zat, maka digolongkan pada gangguan mental organik akibat zat (delirium atau amnesia karena zat).

  4. Pasien dengan tanda-tanda vital yang baik, tidak ada gejala putus zat, tetapi memperlihatkan adanya halusinasi,  waham, tilikan diri yang terganggu, tergolong psikosis.

 

Tindakan Umum

  • ·          Perkenalkan diri dan jelaskan bahwa terapi adalah bantuan (bukanlah hukuman) dan yakinkan bahwa pasien dalam keadaan aman, terapis tetap menjaga rahasia.

  • ·          Tunjukkan perhatian terhadap masalah yang membahayakan kehidupan pasien.

  • ·          Seringkali pasien datang dalam keadaan ketakutan, cemas ataupun panik. Sikap terapi harus tenang dan penuh percaya diri. Tenangkan pasien dengan mengajak bicara dan berilah pengertian bahwa terapis akan memberi bantuan, dengan harapan keadaan

  • ·          Tujukan pemeriksaan pada tanda-tanda vital

  • ·          Usahakan agar jalan nafasnya lancar.

  • ·          Usahakan peredaran darahnya lancar.

  • ·          Pasang alat infus, berikan cairan yang adekuat.

  • ·          Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau trauma fisik yang membahayakan.

  • ·          Observasi terhadap kemungkinan timbulnya kejang.

  • ·          Antagonis diberikan apabila sudah diketahui zat apa yang dikonsumsi pasien.

  •  

 

 

 

 

 

 

Tindakan Khusus

• Intoksikasi Opiat

Berikan antagonis opiat, sesuai dengan Naloksone Challenge Test:

1. Berikan Naloksone 0.8 mg iv, tunggu 15 menit

2. Berikan Naloksone 1.6 mg iv, tunggu 15 menit

3. Barikan Naloksone 3.2 mg iv, tunggu 15 menit

Bila sampai total pemberian 10 mg tidak ada respons, kaji ulang diagnosis.

 • Intoksikasi Kanabis

Ciptakan suasana tenang, pasien diajak bicara. Bila diperlukan, berikan diazepam 10 - 30 mg per oral atau parenteral

• Intoksikasi Amfetamine

Ciptakan suasana tenang, pasien diajak bicara. Bila diperlukan, berikan dizepam 10 - 30 mg per oral atau parenteral, atau klordiazepokside 10 -25 mg per oral.

 

Opiat Withdrawal

Setelah individu tidak mengomsumsi lagi opiat, dalam waktu 6 - 12 jam sudah dapat timbul gejala-gejala withdrawal yang  dapat bervariasi berat ringannya, sesuai dengan jumlah pemakaian, cara pemakaian dan sifat individual. Gejala berlangsung selama 7 – 10 hari dengan puncak gejala pad a hari ke 2 dan/atau hari ke 3.

Gejala tersebut adalah:

  • ·          Pilek, batuk, menguap, lakrimasi

  • ·          Suhu tubuh meningkat

  • ·          Pupil dilatasi

  • ·          Mual, muntah, diare

  • ·          Vasodilatasi umum: panas-dingin,'meriang', keringat banyak, piloereksi

  • ·          Takhikardi, tensi meninggi, frekuensi nafas meninggi

  • ·          Insomnia

  • ·          Nafsu makan hilang

  • ·         Ansietas, gelisah

  • ·         Mialgia, arthralgia

  • ·         Lesu-Iemas

  • ·         Tremor, kramp perut

  • ·         Kejang

  • ·         'craving'

 

 

 

 

 

 

 

Terapi Putus Opiat

Terapi withdrawal dapat dilakukan dg metode Cold Turkey, simptomatik, atau substitusi (agonist, antagonist). Metode-metode terapi ini diinformasikan kepada pasien dan keluarga untuk dapat dipahami masing-masing kelebihan dan kekurangannya, untuk kemudian mereka memilih salah satu yang dianggap sesuai. Tujuan terapi withdrawal adalah :

  • ·         Untuk mengurangi, meringankan, atau meredakan keparahan gejala-gejala putus opiat.

  • ·          Untuk mengurangi keinginan, tuntutan dan kebutuhan pasien untuk 'mengobati dirinya sendiri' dengan menggunakan opiat atau Napza lainya.

  • ·         Mempersiapkan proses lanjutan yang dikaitkan dengan modalitas terapi lainnya, yaitu berbagai jenis terapi rumatan yang tersedia.

 

 

Variasi dan pilihan terapi withdrawal cukup banyak. Cold Turkey bisa dipakai apabila taraf adiksi masih rendah, sehingga gejala putus opiat juga masih ringan. Metode simptomatik dengan pemberian analgetika, antipsikotik, dan lain-lain, masih cukup banyak dipergunakan, bahkan beberapa dokter/psikiater masih memakai antipsikotik dosis tinggi yang di negara maju sudah lama ditinggalkan. Rapid detoxifikasion dapat menjadi pilihan bagi pasien yang tidak tahan sakit dan ingin segera mengakhiri gejala putus zat.

Sedangkan metode buprenorphin merupakan metode yang saat ini cukup banyak dipakai oleh karena cukup praktis, tanpa bantuan anestesi dan dapat dengan rawat jalan. Diperlukan pelatihan sing kat ( 8 jam) bagi dokter yang akan bekerja dengan metode buprenorphin ini, karena beberapa kekhususan dalam metode tersebut.

Klonidin, Lofeksidin dan Guanfasin meskipun dapat bermanfaat mengurangi gejala putus opiat, tetapi tidak banyak dipergunakan oleh para dokter/psikiater di Indonesia . Di RS Ketergantungan Obat Jakarta, metode pemberian Codein untuk terapi putus opiat masih sering dipergunakan, meskipun tersedia pula metode terapi yang lain.

Seleksi Pasien

Memberikan informasi tentang apa itu napza, tanda-tanda withdrawal, jenis-jenis metode terapi withdrawal terhadap keluarga sangatlah penting guna membantu dalam melakukan pengawasan terhadap pasien dalam menjalani program terapi. Pemeriksaan fisik awal akan lebih memberikan informasi tentang berat-ringannya taraf adiksi.

Evaluasi tentang motivasi pasien untuk menjalani terapi akan menentukan prognosis, perlu dinilai pula 'posisi' pasien  apakah masuk dalam stadium prekontemplasi, kontemplasi, preparasi, aksi. Dukungan keluarga dapat menjadi faktor yang penting guna mendukung program terapi. 

Evaluasi secara terus menerus tentang motivasi pasien untuk mempertahankan diri tetap abstinensia adalah hal yang mutlak harus dikerjakan oleh terapis. Diharapkan ada kesepakatan bersama antara dokter pasien - keluarga, dan kerjasama yang saling dapat dipercaya.  Pengobatan akan terus berlanjut sampai 2 tahun, atau bahkan selama mungkin.

 

Amfetamin Withdrawal

Dapat ditemukan gejala-gejala putus zat, yaitu :ansietas, panik - fobik, waham/ide paranoid, agitasi, depresi, insomnia, anhedonia, lelah, isolasi diri, halusinasi, impotensia, 'drug craving'

 

Terapi Putus Amfetamin

Perhatikan intake makanan/cairan. Bila diperlukan dengan rawat inap, waspadai depresi dengan tentament suicide. Persiapkan antipsikotik, ansiolitik

 

Kanabis Withdrawal

Gejala yang timbul biasanya ringan, yaitu gejala psikotik yang berlangsung sementara. Gejala lain menghilang dalam beberapa hari .

 

Terapi Putus Kanabis

Karena ringannya gejala, adakalanya tanpa pemberian obat. Berikan antipsikotik bila diperlukan.

 

Penutup

Telah dibahas penatalaksanaan gejala-gejala putus zat dan intoksikasi, gejalanya bervariasi dan berat ringannya dapat berbeda-beda untuk setiap pasien. Tersedianya berbagai metode terapi withdrawal membuat pasien lebih leluasa  menentukan metode mana yang cocok bagi dirinya. Adanya kerjasama yang terbina sejak awal antara dokter-pasien- keluarga akan sangat bermanfaat untuk kesepakatan dan pengawasan dalam menjalani program terapi.


Kepustakaan

  1. Kaplan HI, Sa dock BJ : Adolescent Substance Abuse, Synopsis of Psychiatry, Behavioral Sciences & Clinical Psychiatry, Lipincott Williams & wilkins, New York , 9th. ed., 2003,1286-1289

  2. Fisher GL, Harisson TC : Treatment of Alcohol and Other Drug Problems, Substance Abuse, Allyn & Bacon, Massachuset, 1997, 129-154

  3. Husin AB : Penatalaksanaan Mutakhir dan Komprehensif Ketergantungan Napza, Cermin Dunia Kedokteran, Jakarta , no. 136,2002

  4. Joewana S : Gangguan Penggunaan Zat, PT Gramedia Jakarta, edisi I, 1989.